Rabu, 06 Oktober 2010

Cerpen

AKHIR SEBUAH SKENARIO TAKDIR
Karya: Annisa Rizqona Hanifah/05 (X.F)

Terik matahari telah, membuat ku mengerti, arti desiran nafas yang memburu. Teduhnya cahaya bulan, membuat ku mengerti untuk bersyukur akan nikmat dibawah jeritan air mata, akan hari esok.”

Seuntai kata yang pernah aku  ucapkan saat aku berumur 26 tahun. Tragedi 24 Desember 2004. Kini, aku bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim sebuah fragmen dan aku hadir dengan latar  yang berbeda dan prolog yang seirama. Ya, seperti lelucon yang mampu membuatku tertawa terbahak-bahak dan air mataku jatuh dan aku terdiam dan berkata, “Apa yang terjadi?”
            Kau tahu, disaat semua orang mencari dimana keluarganya, dimana orang tuanya, yang kulakukan hanyalah diam, bingung, kadang tertawa, dan semua itu tidak berlangsung lama. Saat  aku mendengar takbir azan berkumandang pertama kalinya, sejak gelombang tinggi dan haus nyawa itu kembali tenang, puas, dan kenyang.  Sebenarnya, aku sadar apa yang aku lakukan. Tetapi, aku tak mampu menatap hari esok dengan seorang diri dan aku tak mampu menangis. Sulit air mataku membasahi pipiku. Kini, aku hanya berbalutkan celana yang penuh dengan lumpur dan basah dengan pakaian yang robek, akibat goresan ranting yang mengenai punggungku, membuat robek dan lecet. Aku baru bisa membersihkan tubuhku saat aku hendak solat.
“ Assalammualaikum wr.wb. Assalammualaikum wr.wb. Alhmdulillah. “
Nak, apa kau baik-baik saja? Berdoalah. Menangislah semaumu nak, memintalah kepada-Nya, tidak ada yang melarang seorang lelaki tidak boleh menangis. Kehilangan orang yang kita cintai itu bukanlah sesuatu yang perlu kita takuti, apalagi kita hindari. Hanya saja terkadang cara Tuhan menjemput merekalah yang terkadang membuat kita merasa tidak sanggup . Tapi percayalah, Tuhan selalu bersama orang-orang yang mau bersabar.” kata seorang bapak yang berada di sebelahku saat solat Maghrib dan bapak itu pamit karena ia hendak mencari sanak keluarganya akibat peristiwa Tsunami kemarin.
            Kata-kata itu, menyejukkanku. Berlinang air mataku dan tak mampu lagi aku menahannya. Ya Allah. Alhamdulillah. Terpikir olehku, dimana orang tuaku, adikku Mia? Apakah mereka masih hidup? Atau mereka sama sepertiku, bertanya-tanya dimana kami semua? Ya Tuhan berikan kami perlindungan dan pertemukan kami. Tiba-tiba kepalaku terasa berat, dan perlahan-lahan penglihatanku buram dan aku pingsan. Di dalam tidurku yang sebentar itu, terlihat olehku cahaya putih bersinar menyelimuti tubuhku dan kehangatan merasuki tubuhku. Oh Tuhan! Seorang wanita memelukku dan dikanannya ada sesosok pria gagah dan gadis kecil yang memperlihatkan wajah penuh harapan. Oh Tuhan, tolong hentikan waktu itu dan biarkan aku merasakannya lebih lama lagi.  Sontak aku terbangun dan semua berbeda. Kenapa hanya sebentar? Kenapa Kau biarkan aku kembali merasakan kehampaan ini?
            “Asslammualaikum. Ini waktunya anda sarapan.” kata seorang perawat, sepertinya salah satu perawat dari PMI.
            “Waalaikum salam. Ya, terima kasih. Bisakah anda memberi tahuku, untuk melihat daftar korban bencana Tsunami kemarin yang masih hidup, ataupun sudah meninggal dimana?”tanyaku.
            “Ya, saudara bisa melihatnya di depan POS 1 atau  di samping POS 2 juga ada.”
            “Terima kasih,”kata itu yang hanya ku ucapkan.
            Rasanya tak sabar aku ingin melihat daftar korban itu. Aku harap nama orang tuaku dan adikku ada. Segera ku habiskan makanan yang diberikan perawat itu kepadaku dan aku langsung menuju ke bagian administrasi untuk diperkenankan pulang. Entah perasaan bahagia apa yang kurasakan, semua nama itu tercantum di papan nama korban Tsunami berikut kondisinya. Tertulis deretan abjad,  nama-nama korban bencana yang masih dalam keadaan keritis.
DAFTAR KORBAN KRITIS
193
Ny. Mariam
62  tahun
DAFTAR KORBAN MENINGGAL
12.
Tn. Rahmat
63 tahun
13
Ny. Susi
46 tahun
14.
Mia Maria
15 tahun



Terdiam aku melihatnya. Rasanya seperti bumi ini runtuh, menimpa sekujur tubuhku. Air mata tanpa kusadari telah membasahi pipiku. Lemas aku melihatnya. Tak mampu kaki ini rasanya menopang seluruh tubuhku. Perih. Kumerasakan tajam tombak menghujam ulu hatiku, membuat hatiku menjerit. Aaaaaaaagggggggggggghhhhhhh! Kenapa ini harus terjadi? Kenapa cobaan ini kau berikan padaku? Dosa apa sehingga Kau berikan semua ini? Hanya itu yang mampu kulakukan dengan genggaman tangan yang terus memukul-mukul keras bumi tempatku berpijak.
***
Ibu! Hanya ibu. Dimana ibu? Aku. Aku ingin ibuku. Aku harus betemu ibuku. Aku rindu ibu. Aku ingin memeluknya.

Berdiri. Lihat kedepan Fath. Jemput Ibumu. Kuatkan langkahmu. Berlarilah. Peluk ibumu. Sujudlah cium keningnya

.Kata-kata itu kian kuat membisik disukmaku. Tanpa melihat siapa disekitarku, aku berlari sekuat tenaga, sekencang-kencangnya. Terus. Kubiarkan keringat membasahi seluruh tubuh. Didalam hatiku terus menjerit. Ibu! Ibu! Jangan kau tinggalkan diriku! Terdiam. Entah, apa lagi ini? Kekuatan apa yang mampu menahan kencangnya alur kakiku, hingga membuatku terhenti, seakan waktu yang menghentikan. Denyut jantungku seakan semakin lama kian menghilang iramanya. Kenyataan apa lagi yang kau berikan kepadaku Tuhan? Sesosok wanita yang menatap hari tuanya, terduduk lemah tak berdaya, dengan balutan perban dikepalanya. Hanya menatap langit yang sepi tanpa sua-an burung dengan tatapan kosong. Kurus. Mata yang kian cekung. Terdengar lontaran syair yang merdu mengalir indah di bibir manisnya. Menghangatkanku. Ku terbangun dalam skenario waktu.
“Ibu kah itu?”
“Apa yang bisa saya bantu ?” kata seorang perawat POS 2.
“Ya. Tentu. Benarkah itu Ny. Mariam 62 tahun?”
“Anda keluarganya?”
“Saya anaknya.”
“Syukurlah. Tetapi, ada hal yang tidak mengenakkan harus kau tahu.”
“Apa itu? Cepat beri tahuku!”
“Kepala bagian kanan ibumu mengalami cedera. Kemungkinan, dokter yang sudah memeriksanya mendiagnosis, disebabkan karena adanya benturan dan kondisi mentalnya yang masih trauma, sehingga membuat Ny. Mariam mengalami gangguan mental sementara. “ kata perawat itu dengan cepat dan jelas menjelaskan tentang ibu padaku.
“Apakah ibu bisa sembuh?”
Insyallah bisa.”
            Saat bertemu ibu, aku langsung memeluknya, mencium keningnya dan mencium telapak kakinya sebagai rasa hormat kepada ibuku tercinta. Sejenak, aku merasakan kebahagiaan akan ibuku yang kini masih disisiku. Walau, serentak ibu mengusirku seraya ia tidak mengenalku. Remuk dihati melihat kondisi ibu, membuat aku semakin galau. Harus bagaimana aku? Tidak. Tidak. Harusnya aku tidak berfikir begitu. Aku harus membuat ibuku sembuh dan aku harus bisa membuat ibuku tersenyum. Aku ingat, aku dulu ingin membahagiakan ibuku, dengan mewujudkan keinginannya, bahwa dia ingin aku menjadi Duta Besar Indonesia dan membawa ibu ke Makkah. Ya Tuhan, berikanlah hambamu kekuatan! Tak perlu berfikir panjang, aku langsung mencoba mengingat-ingat nomor telepon tante Fitri, keluarga ibu yang berada di Palembang. Aku melupakan satu nomor terakhir. Ya. Angka terakhirnya. Aku fikir itu tidak terlalu penting karena aku bisa mencoba sembilan angka yang ada. Bergegas aku menitipkan ibu pada perawat dan aku meminjam telepon genggam pada seorang dokter, yang juga merawat ibu. Aku yakin, dokter itu tidak akan keberatan dengan meminjamkan telepon genggamnya, toh ia pasti tahu pentingnya alat komunikasi itu disaat-saat seperti ini. Satu, itu akhiran pertama yang kugunakan di nomor yang kuketik di layar telepon genggam ini, dan hasilnya salah sambung. Dua, juga sama. Tiga. Empat. Lima, dan akhirnya Enam. Ya, enam itu angka terakhir yang tepat untuk menghubungi tante Fitri.
“Asslamualaikum.”
“Waailaikumsalam, ini dengan siapa?”
“Ini, Alfath tante.”
“Oh. Ya. Alfath. Dimana posisimu saat ini? Om sedang menuju kesana untuk melihat kadaan kalian.”
“Disini, tinggal Fath dan ibu. Kami saat ini berada di POS milik PMI tepatnya POS 2.”
“Ya, ya tante akan memberitahu om. Fath mengenai kuliahmu, kamu bisa melanjutkan dan mengurus sarjanamu di Palembang, tante ikhlas, anggap saja ini rezeki karena ibumu pernah menguliahkan tante dulu.”
“Alhamdulillah, terima kasih tante. Tante, sudah dulu ya. Ini telepon genggam milik dokter disini, Fath tidak enak berlama-lama menggunakannya.”
“Ya, Fath tidak apa.”
Senang sekali rasanya mendengar kabar itu. Andai ibu sehat, ibu pasti bahagia. Aku langsung mengembalikan telepon genggam milik dokter dan tidak lupa kuucapak terima kasih. Lalu, aku segera membereskan yang perlu aku bereskan, walau sebenarnya tidak ada, karena barang-barangku sudah habis hanyut saat tsunami. Ibu. Bagaimana aku bisa memberitahunya. Aku langsung mendekati ibu, dan aku membujuknya dengan suara pelan dan lembut. Aku meyakinkannya. Ya, Alhamdulillah ibu mau diajak pulang ke Palembang, walau sulit rasanya membujuk ibu dengan kondisinya seperti ini, mukaku diludahi, dadaku ditendang, rambutku dijambak dengan kekuatan yang seadanya. Tetapi, aku sadar, dia ibuku, aku disini karenanya. Oh ibu, Alfath akan selalu menjagamu, seperti ibu menjaga Alfath dulu saat Alfath sakit. Air mataku jatuh perlahan bila mengingat masa kecilku bersama keluargaku. Ayah, Mia, Alfath akan jaga ibu.
Malam kian larut. Suasana semakin sepi dan dingin mulai merasuki tipisnya kulit ini. Pukul sudah menunjukkan 22.05 malam. Aku dan ibu masih setia menunggu om Herman. Tret tret tret, bunyi klakson mobil om Herman. Om Herman langsung memboyong aku dan ibu. Di mobil, tak banyak yang kami bicarakan, karena aku dan ibu sudah mulai lelah dan om Herman memperkenankan kami istrirahat.
***
            Palembang. Ya, ini kota masa kecilku. Kota bermainku, bermain bersama bocah-bocah yang tinggal di seberang sungai Musi. Jauh memang, bila aku sekarang bayangkan, bermain disana dengan jarak rumahku dulu. Berbeda dengan rumah om Herman dan tante Fitri yang jaraknya jauh dengan sungai Musi, lebih jauh dari rumahku. Ibu, lagi-lagi ibu melakukan hal yang aneh, untungnya tante Fitri dan om Herman mengerti dan bisa menerima dengan baik. Awalnya, ibu kembali memberontak saat hendak ku ajak masuk kerumah tante Fitri dan lagi-lagi aku berusaha keras membujuk ibu. Ibu menangis sejadi-jadinya, dan kulihat tetangga sekitar mulai merasa terganggu dan ada yang berlari kecil masuk kerumah karena takut dengan kelakuan ibu, ada juga yang bilang ado uong gilo oi.
Sedih? Jawabanku, tidak! Justru aku marah dengan perkataan itu. Tapi, sudahla mereka tidak tahu apa-apa, yang aku ingin lakukan hanyalah membawa ibu kekamar dan istirahat. Ternyata om dan tante sudah menyiapkan kamar untuk kami. Aku langsung membawa ibu kekamar dan aku langsung menemui om dan tante. Uhuk uhuk! Semenjak kemarin rasanya dadaku terasa sakit. Ah, paling kecapaian.
“Fath, bagaimana kondisi ibumu? “ kata tante.
“Ya, seperti apa yang tante lihat. Ibu, mengalami gangguan mental sementara dan insya allah sembuh tante, doakan saja.”
“Kuliahmu, om dan tante sudah mengurusnya, pihak universitas tempat kamu kuliah memahami betul kondisi semua mahasiswa mereka. Bahkan mereka memberikan keringanan, bila ingin melanjutkan skripsi tahun depan dan om sama tante fikir kamu pasti tidak ingin memperlambat sarjanamu.”
“Ya, tante benar. Fath ingin cepat-cepat membahagiakan ibu.”
“Oh ya Fath, kapan kamu menikah? Ha ha, itu juga bisa membuat ibumu bahagia bukan?” tanya om dengan muka mencoba membuatku tertawa.
“Ha ha, ya Fath mengerti. Tapi, nantilah om. Fath masih mau sama ibu.”
***
            Hampir enam bulan, aku kembali melanjutkan skripsiku demi sarjanaku. Ibu, belum mengalami perubahan apapun mengenai penyakitnya. Tante dan om masih dengan sabar merawat kami berdua. Aku, baru dua bulan lalu aku divonis radang paru-paru oleh pihak rumah sakit, akibat lumpur yang sempat tertelan saat peristiwa tsunami yang membuatku sempat terbawa arus. Hampir setiap malam, aku merasakan sakit di bagian dadaku, radang itu sudah tak bisa lagi disembuhkan, karena aku terlambat membawa kerumah sakit untuk pengobatan, demi mengurus ibu yang saat itu aku pikir, ah paling aku masuk angin. Walaupun sekarang aku tahu keadaanku, aku tak perduli, yang aku pikirkan hanyalah membahagiakan ibuku, dengan sarjanaku dan jabatanku yang nantinya membawa ibu menunaikan ibadah tertinggi.
“Fath! Fath!” teriak tante hingga menghapus lamunanku.
“Ya, tante ada apa? Apa yang terjadi?” dengan perasaan yang heran dengan posisi tanganku memegang dada, karena lagi-lagi rasa sakit itu datang.
“Ibumu Fath, ibumu sudah mulai solat lagi. Itu tandanya ibumu mulai sembuh Fath?”
“Benarkah? Alhamdulillah. Usaha kita tidak sia-sia tante.”
“Ya, Fath. Tapi Ibumu masih suka berlaku aneh Fath dan mengamuk bila tante tanya apa yang ibumu lakukan.”
“Tidak apa tante, kita harus sabar, ini saja sudah kemajuan. Kita harus bersyukur.”
“Fath, apa paru-parumu terasa sakit lagi? Apa kau sudah minum obat?”
“Oh, ya sudah tante. Ah, tidak apalah, yang penting Fath sudah minum obatnya.”
Kejadian itu, semakin membuatku giat menyelesaikan skripsiku, dan besok adalah konsultasi terakhir, itu tandanya skripsiku selesai, dan minggu depan adalah ujian kelulusanku. Sakit itu pun kian lama kian sering aku rasakan, terkadang aku tak tahan untuk menahannya. Hingga suatu hari darah keluar deras dari hidungku. Oh Tuhan, biarkan aku bertahan hingga aku bisa melihat ibu tersenyum bahagia.
***
            Ujian kelulusan telah berakhir. Aku mendapat nilai tertinggi 4,0. Ya, aku lulus dengan nilai yang sangat memuskan comloude. Alhamdulillah. Tante dan om memelukku bangga. Aku melihat raut muka ibu, diam tanpa ekspresi, aku melangkah menghampiri ibu dengan tatapan penuh air mata. Aku bersujud diatas pangkuan ibu. Ibu hanya diam tak bersua sedikitpun. Aku meraih tangannya dan aku berkata;
“Ibu, keinginanmu telah kupenuhi, ini yang ibu dambakan dari anakmu yang penuh dosa ini. Ibu, tak ada yang lebih berharga didunia ini selain dirimu. Hidupku telah kuperjuangkan untukmu. Anakmu ini ingin melihatmu tersenyum ibu.”
Lagi-lagi ibu diam, ibu hanya menatapku dengan tatapan kosong, seakan bertanya “Apa si yang terjadi?”
            Malam wisudaku tiba, kali ini ibu tidak disampingku dan berfoto denganku, menggunankan jas pemberian om dan tante atas kelulusanku dengan nilai yang memusakan, berbalut toga hitam, yang bertanda aku lulus. Saat yang bersamaan, ibu saat itu sedang melakukan operasi otak sebelah kanannya, ditemani tante Fitri, jadi dengan perasaan yang tidak menentu saat itu hanya om Herman yang terus berusaha membuatku untuk selalu tenang. Saat pengumuman, ada kabar yang menggembirakan. Nilai IPK tertinggi akan langsung diterima menjadi salah satu bagian kedutaan besar di Singapura, dan satu-satunya nilai IPK 4,0 itu aku. Sujud syukur langsung aku lakukan, tak ketinggalan om Herman. Betapa bahagianya aku, uang tunai 100U$$ Singapura menambah sebagai pelengkap kebahagiaanku dan semua impian ibu, kini bisa ku raih semua tak lepas ridha ibu adalah ridha Tuhan. Malam itu juga, sesudah acara wisuda itu selesai, aku dan om Herman langsung segera ku rumah sakit. Om Herman mendapat kabar bahwa operasi ibu berhasil dan insyallah malam ini ibu sudah sadar. Setiba di rumah sakit, aku langsung segera menuju kamar ibu dan apa yang aku lihat, ibu memanggil namaku. Al, Alfath anakku, itukah dirimu? Oh Tuhan, betapa besar karuniamu, betapa besar hadiah yang kau barikan kepadaku. Langsung aku peluk ibu, ku cium tangannya, keningnya.
“Bu, ibu pasti belum solat Isya. Maukah ibu berjamaah bersama Fath?”
“Ya sayang. Tentu.”
Segera aku mengambil air wudhu, begitu juga om, dan ibu dibantu tante Fitri bertayamum, kali ini tante tidak ikut solat karena sedang berhalangan. Aku meminta kepada om, untuk memperkenankan aku menjadi imam, karena aku ingin menjadi imam bagi ibuku setelah kepergian ayah. Terlihat kebahagiaan yang memancar dari raut muka ibu. Ternyata ibu sudah mengetahui atas kelulusanku dan perjuanganku membawa ibu ke Palembang. Ibu terlihat sangat bahagia. Ibu memelukku seusai solat. Ibu pun mengetahui penyakitku, dan ibu bilang padaku.
“Berbuatlah apa yang menurut kata hatimu. Selama itu berada dalam garis lurus-Nya. Berdoalah. Bersyukurlah tanpa henti. Sakit, luka, perih, juga harus kau syukuri nak. Ibu meridhai apa yang kau lakukan. Ibu menyayangimu. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Nyawa biarlah Dia yang mengatur, yang menjadi takdir setiap manusi. Manfaatkan setiap waktumu dengan selalu ingat kepada-Nya. Jangan lupa bersedekah nak.”
Kata-kata itu membuatku semakin tenang dalam pelukannya. Bisikan lembut itu semakin mengalir deras menghangatkan tubuhku. Uhuk uhuk uhuk ! Lagi-lagi dada ini terasa sakit, perih, aku lupa minum obat. Aku meminta kepada om dan tante untuk membantuku mempersiapkan keberangkatan haji, kali ini yang aku ajak tidak hanya ibu, tetapi tante dan om. Om dan tante pun bersedia membantu dan malam itu juga aku langsung menemui dokter spesialis paru-paru untuk kembali melihat keadaan paru-paruku. Apa yang aku rasakan ternyata lebih buruk. Sebagian paru-paruku semakin membengkak dan mulai melemah, sulit melakukan penyaringan setiap kali aku bernafas. Tak ada waktu untuk operasi total dan itu pun harus memakan waktu yang sangat lama dan tidak tahu apa akan berhasil. Lebih baik, aku memikirkan keberangkatan ibu, om dan tante. Aku mempunyai firasat, aku tidak bisa menemani ibu untuk berada diMakkah. Allahualam, hanya Tuhan yang tahu,
***
            Hari keberangkatan tiba, kami semua sudah siap untuk berangkat. Sebenarnya, menurut pihak rumah sakit, keadaanku tidak memungkinkan aku berangkat, tapi demi menemani ibuku, akhirnya pihak rumah sakit mengerti dan pihak rumah sakit mengiramkan tenaga medis untuk ikut, merepotkan sebenarnya. Persiapan hanyalah persiapan, keinginan tinggal keinginan, kuasa Tuhan tetaplah yang utama. Hembusan itu dengan lembut membuatku lemah tak berdaya. Rasa sakit yang aku raskan tidak seperti biasanya. Darah segar mengalir pelan dari kedua lubang hidungku. Tanganku dingin bagaikan daging segar dari dalam lemari pendingin. Nafas ini tak mampu lagi bernafas, sakit, perih. Ya Tuhan, apakah sudah saatnya? Ku lihat air mata ibu mengalir deras membasahi pipinya.  Ibu semakin mendekat, suasana pun semakin terasa panas karena banyak yang bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku dibawa oleh om dengan dibantu petugas medis dari rumah sakit menuju bagian kesehatan yang ada dibandara.
“Om, tante, tetap pergilah ketanah suci tolong jaga ibu. Walau aku tak bersama kalian. Itu permintaanku.”
 Alat pembantu pernapasan mulai menghiasi bagian hidung hingga mulutku, aku hanya bisa diam, tak mampu mengeluarkan air mata, karena aku tak ingin menangis dihadapan ibu. Ibu memelukku, dan kulihat ibu menghapus air matanya. Ibu kembali membisikkan kata-kata ditelingaku.
“Istighfar anakku, syukurilah apa yang telah kau dapati, berzikirlah, sebut nama-Nya. Ibu mengikhlaskanmu, ibu mencintaimu nak, ibu meridhaimu, ibu selalu medoakanmu dan memafkan semua kesalahanmu, kembalilah dengan tenang anakku.”

“Ya Allah aku bersyukur akan rakhamat-Mu, aku bersujud atas kuasa-Mu, Engkau segala kaya dari mereka yang kaya, Engkau segala yang bijaksana dari mereka yang bijak, Engkau segala pengasih dari mereka yang pengasih. Ampunilah segala dosa-dosa ku. Ya Allah tak ada yang lebih nikmat selain apa yang Engkau berikan. Lailahaillallah Asyhaduallailahaillahu Waasyhaduannamuhammadarrasullullah

Itulah akhir. Sebuah parodi yang pernah singgah, ditengah fragmen dengan lembaran skenario. Saat akar pohon jati yang kian tahun menampakkan kegagahannya, dengan tonjolan otot berselaput keriput dibalik dua dimensi diantara dua bola mata. Takbir ilahi, bagai simfoni mengalir dalam naluriku. Menerangi alunan langkah, mengayomi samudera sunyi. Pelita dunia bercahaya emas, menutup pintu sukma hamba-Nya di pertiwi. Membuat diriku rapuh, meninggalkan jejak buram ditengah gurun dengan ribuan fatamorgana. Mengalun sepi dengan mereka yang satu persatu tumbang ditelan kuasa-Nya. Aku bersujud, hanya beralaskan anyaman pelepah bambu dengan rintihan perih dan air mata membasuhi kedua mataku.